0

Pasca Pilpres 2019 banyak yang rame dan debat dimedia sosial, mulai dari berbagai pandangan politik, usia, kelompok, termasuk kawan-kawan Gusdurian ikut berpartisipasi dalam meramaikan gejolak politik yang sedang memanas dimedsos. Banyak pengamat, kelompok organisasi, pemuda mahasiswa, yang mencoba menganalisis kondisi Indonesia sebelum dan sesudah dilaksanakan hari H Pilpres serentak. Baik dari segi politik, ekonomi, sosial-kemasyarakatan, budaya, dan kestabilan masyarakat Indonesia dalam berbangsa dan bernegara.

Gusdurian Lebak dengan dimotori koordinatornya Gus Kholiyi menginisiasi untuk melakukan bedah film “Sexy Killers” sebagai respon-selain karena viralnya film ini-juga menjaga dan berekspansi membuka ruang baru diskursus pasca pilpres agar seminimalnya segala sesuatu yang viral dimedia sosial dan sesuatu tersebut berpotensi menimbulkan kontroversi meluas dikhalayak umum, apalagi berkenaan dengan informasi-informasi yang memiliki hubungan sebab-akibat dengan kondisi masyarakat Indonesia hari ini, maka diperlukanlah pengkajian bersama, dan itu yang dilakukan Gusdurian Lebak.
“Bedah film ini tidak berarti Gusdurian Lebak ikut-ikutan dengan yang sedang viral, tapi ini dirasa penting untuk kami” ujar Gus Kholiyi.

Kegiatan yang dilaksanakan di PCNU Kab. Lebak dibuka untuk umum dan dihadiri oleh beberapa organisasi/komunitas/wadah selain Gusdurian Lebak, beberapa diantaranya; GP Ansor, PMII, dan sahabat-sahabati IPNU dan IPPNU, serta kawan Gusdurian Banten yang datang langsung dari Kota Serang. Menghadirkan pemantik ketua PAC GP Ansor Lebak Kiyai Deden, sebagai upaya memantik suasana dinamika pemikiran bakal terjadi pada kegiatan inti bedah dilakukan, setelah nonton film bersama usai.

Kegiatan yang dilaksanakan pada malam kamis hari Rabu tanggal 24 April 2019, dimulai dengan pembukaan sebagaimana mestinya, dan penyampaian maksud dan tujuan diadakannya acara oleh koordinator Gusdurian Lebak. Setelah satu demi satu hadirin dan peserta bedah film datang digedung PCNU Kab. Lebak, tepat tak lebih dari pukul 20.30 pemutaran film dimulai dengan diawali ucapan do’a dari Koor Gusdurian Lebak sekaligus berperan sebagai pembawa acara.

Latar demi latar film ditonton dengan suasana khidmat khas acara Gusdurian, yaitu masih terdengar remang-remang ditelinga gelak tawa cengengesan dari peserta, tanda bahwa ada scene film yang membuat intuisi humor mereka aktif secara tiba-tiba. Film yang berdurasi lumayan panjang untuk sebuah film dokumenter ini, cukup membuat beberapa peserta bedah film menggeleng-gelengkan kepala, karena menurut salah satu peserta bedah film yang berasal dari Kota Serang Agus “Banyak data-data yang diungkap disini (film ini) yang baru kita dengar” Ujar Mahasiswa Bimbingan dan Konseling semester 2 UNTIRTA ini.

Memang, film ini merupakan film dokumenter karya dandy laksana yang dengan sengaja melakukan investigasi dan advokasi sendiri ke lapangan, mengelilingi kawasan Nusantara untuk mengungangkap kondisi proses penambangan batubara yang kita ketahui merupakan bahan dasar PLTU yang menghasilkan listrik untuk wilayah-wilayah di Indonesia. Bagaimana impact lingkungan; alam, masyarakat, dan lain sebagainya. Film inipun memberikan referensi terkait kepemilikan perusahaan-perusahaan besar yang menggeluti penambangan batubara serta korelasinya dengan elit politik birokrasi Indonesia hari ini. Diantaranya, bapak Menteri Luhut Pandjaitan, Sandiaga Uno, dan tokoh-tokoh lain, termasuk ke empat capres dan cawapres Indonesia di Pilpres tahun ini (2019), di film ini dibahas sebagai tokoh yang masih memiliki hubungan dengan korporat-korporat yang menguasai penambangan dan pembangunan batubara dan PLTU.

Sedikit banyaknya, film ini membuka fakta tentang kondisi masyarakat disekitar penambangan batubara dan PLTU, yang tendensi konstelasi sosial kultural dan ekonominya cenderung justru tidak baik-untuk tidak mengatakan-memburuk.

Setelah film ini ditayangkan, pemantik sekaligus ketua PAC GP Ansor Lebak, Kiyai Deden dipersilahkan oleh pembawa acara untuk memantik peserta dan membedah film SEXY KILLERS bersama-sama.

Awalnya pemantik coba menganalisis kaitan film dengan kebetulannya terbit ditengah-tengah masa politik memanas. Apakah film ini memiliki agenda dan memihak secara politik kepada salah satu paslon atau tidak, itu menjadi pembukaan awal. Setelah itu pemantikpun pelan-pelan mulai mengarah kepada pembahasan nilai yang terkandung pada alur film ini, khususnya sisi positif yaitu kepedulian lingkungan.

Oleh karena ternyata dari ketidakdisiplinan perusahaan-perusahaan atau masyarakat terhadap lingkungan yang mestinya menjadi tanggungjawab bersama, ternyata dampak negatif yang ditimbulkan luar biasa, bagaimana perekonomian masyarakat menurun karena sawah yang mereka garap diarea dekat pertambagan kekeringan air. Bagaimana nelayan mengalami penurunan tangkapan ikan tiap harinya sehingga berpengaruh kepada omzet dan otomatis ekonomi rumah tangga mereka, diakibatkan karena pencemaran debu PLTU yang diklaim oleh perusahaan sudah direndahkan kadar resiko pencemarannya, tetapi justru paradoks dengan realita.

Setelah itu pemantik mengkritik sedikit dari keseluruhan film tersebut, yaitu dominan justru memiliki motif politis, mungkin tidak memihak salah satu paslon, tapi ada motif dan agenda untuk build opinion public agar kebingungan dan akhirnya memilih golput. Di akhir pantikannya Kiyai Deden berpesan agar kita semua menyadari kalau yang memiliki kesalahan dan bertanggungjawab atas semua hal yang terjadi di film, khususnya gejala-gejala yang timbul akibat apa yang sering disebut-modernisasi-sehingga kebutuhan pasokan listrik yang membludak memaksa dan kadang dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak terjawab, belum lagi pemakaian listrik yang kurang bijak dari kita sebagai konsumen aktif.

Setelah itu acara dilanjutkan dengan diskusi santai, dengan gaya ditunjuk oleh sipembawa acara yang kemudian bertindak sekaligus moderator juga. Berbagai tanggapan coba diakomodir dan serap serta dijadikan pantikan lanjutan dalam diskusi malam itu. Saking romantisnya seni berbicara malam itu, tak terasa jam sudah menunujukan tengah malam, dan bahkan atas kesepakatan diperpanjang dan dibatasi sampai pukul 01.30. Tanggapan-tanggapan dari berbagai elemen organisasi dan komunitas yang hadir menjelaskan betapa banyak kasus-kasus lain-tidak hanya batubara-untuk menggambarkan betapa kronisnya kondisi kalangan elit Indonesia hari ini.

Pada konklusi diskusi, kita yang diakar rumput tidak boleh konflik horizontal berlebihan diarea kontra-produktif dengan cita-cita berbangsa dan bernegara kita. Sepakat mengawal masyarakat sebagai suatu jalan menghargai perjuangan para pendiri bangsa, dan kesadaran kritis bahwa peserta merupakan bagian kecil dari masyarakat juga.

Pada penutupan, Gus Kholiyi mengucapkan terimakasih dan merencanakan untuk merutinkan acraa-acara demikian, serta meminta saran dan kritiknya agar dikemudian hari acara-acara yang dilaksanakan oleh Gusdurian Lebak bisa lebih baik lagi.

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Kolom