0

Mentari pagi bersinar cerah dibelahan bumi bagian barat di Pulau Jawa. Seperti biasa Aples (nama panggilan) terbangun dan tergopoh-gopoh (seolah berat) mencari kamar mandi dirumahnya untuk mencuci muka-meski tidak dikeringkan dan dijemur-dan membuat kopi panas. Oh… sungguh rutinitas memuakan-tiap harinya-tetapi bila terlewat akan lebih memuakan kehidupan dihari itu.

Pemuda tegap, dengan kulit aga gelap tersebut memantik api dari korek untuk menyalakan sebatang rokok kretek yang dia ambil barusan dari warung punya ibunya. Bersama Kopi dan Rokok, dalam pandangan dia, kenikmatan hidup tak perlu menunggu sampai tabungan membengkak dan manusia lain sampai-sampai menundukan pandangan ketika melihat. Baginya, ini saja cukup.

Trektekktektektektek….

Suara ketikan aplikasi chat What’sApps, juga beriringan dengan Aples yang sedang menikmati hidup tadi. Dia-pun sadar kenikmatan hidup yang sekarang dia rasakan, mesti dibagi untuk kawan.

“Hei dimana Sep ?” Chat Aples kepada kawannya yang bernama Asep.

“Aku dirumah bor…” Jawab kawannya.

Setelah berlarut percakapan online mereka berdua, terjadi kesepakatan yang memang sedari awal maksud hati Aples adalah mengajak kawannya itu, untuk bermalam Minggu sambil mancing  dipinggir pantai. Akhirnya MoU-pun terjadi, dan khas perjanjian dikebiasaan hidup para pemuda, bahwa sesuatu yang dia pastikan (beritikad ‘akan’) tidak dia tambah-tambahi dengan kalimat “InsyaAllah” yang sakti itu, mungkin senjata itu hanya digunakan untuk momen konsep pemikiran Filsafatnya Descartes tentang Skeptis, atau sederhananya “keragu-raguan”. Ya namanya juga kata, tak pernah benar-benar bisa merepresentatifkan makna yang ingin disampaikan sebenarnya.

***

Hari Sabtu itu cerah sekali… Orang Yahudi yang sedang melakukan ritus Hari Sabat pasti senang sekali.  Sayangnya cuaca ini belum tentu berlaku diseluruh penjuru dunia. Tapi ya semoga saudara disana mendapatkan cerah juga, apapun bentuknya.

Hari itu adalah hari yang bertepatan dengan bencana Tsunami Banten, hari dimana kita semua yang memiliki nurani  malas untuk mengkalkulasikan berapa korban, bagaimana keadaan korban, berapa yang korban meninggal dunia, oh bro, it’s not a calculate. Sepakat kita semua tidak tega untuk mendengarnya, tapi mau bagaiamanapun, rumus hidup memanglah demikian, ada yang jatuh, ada yang menjatuhkan, ada yang menguatkan. Semuanya pada siklus yang tidak tumbuh pada diri individu satu peran, terus dinamis; saat ini aku bukan korban, mungkin esok lusa bisa jadi pelaku.

Tsunami bukanlah sinema, meskipun tsunami bisa ada di sinema, dan sinema bisa hanya nama perusahaan yang memproduksi sinteron saja.

Indonesia memang negara yang berbentuk kepulauan, dengan beribu-ribu pulau terhampar dan biasa disingkat dari Sabang sampai Merauke.

Sahabat. Apakah engkau masih ingat dengan beberapa kejadian Tsunami yang terjadi di negeri kita tercinta ini ? Ya, tentu hampir semua masyarakat yang memiliki akal sehat-meski kebutuhannya kadang mendesak perut lebih didahulukan dibanding akal sehatnya (itu aku)-akan ingat dengan kejadian-kejadian (Tsunami) tersebut. Dan yang terakhir adalah bencana Tsunami yang menimpa Banten, Pandeglang Selatan tepatnya; Carita, Tanjung Lesung, Sumur, Taman Jaya, pulau-pulau kecil; Oar, Badul, tak ketinggalan untuk ikut terhantam Tsunami yang diakibatkan (menurut BMKG) erupsi Gunung Anak Krakatau yang posisinya berada ditengah Selat Sunda terhimpit oleh Pulau Jawa dan Sumatera. Bila bencana disiplin akan administrasi, bencana Tsunami harusnya hanya boleh menimpa wilayah Lampung saja, karena Gunung Anak Krakatau termasuk wilayah Prov. Lampung secara administratif, akan tetapi memang siapa yang bisa mengingatkan bencana ? siapa juga yang berkuasa atasnya ? Atau ini seperti percontohan dari alam semesta, bahwa memang tidak hanya bencana alam, perbuatan-perbuatan birokrat yang tidak patuh administrasi, hukum, birokrasi, tentu juga tindakan korupsi, dan perbuatan-perbuatan subversif lain didalam pola kehidupan manusia tidak hanya dipemerintahan memang merupakan bencana.

Masih tersisakah pengayom yang ikut merasakan kepedihan manusia lainnya sama seperti dia mengayomi dirinya sendiri ?

***

Cerah cuaca sore, ditambah dengan semilir angin pantai yang membawa imaji pada cerita yang membawa manusia pada keadaan tenang dan bahagia. Itulah yang sedang dirasakan duo AA; Aples dan Asep, sambil memancing, mereka berdua menikmati asap rokok tiap sedotannya, dibarengi dengan kopi hitam manis yang ditaruh di gelas cup.

Ssstrtt….ahh

Huuhh…

Suara sruput kopi Aples untuk setelahnya sedotan asap rokok, nikmat sepertinya.

“Wah hari ini ikan banyak ya” Saut Hendri pemuda pantai kampung setempat yang masih kawan Aples dan Asep.

“Ya…” Singkat jawab Asep sambil menarik lagi pancing karena mendapat Ikannya yang entah ke berapa.

Dari tengah laut terlihat perahu kecil nelayan, nelayan melambai-lambai tangan sambil berteriak mengajak duo AA dan kawan-kawannya yang sedang mancing dipinggir laut untuk ikut menuju perahu jikalau mau.

Hanya saja, karena mereka berpikir dipinggir saja sudah banyak, dan mereka tidak seperti nelayan yang memang mencari Ikan sebagai mata pencaharian sedang mereka hanya sekadar semi-holiday gaulnya, jadi tidak menerima tawaran si nelayan.

“Mangga mang…” Saut duo AA dan kawan-kawan setengah berteriak. Jadi sudah merupakan kewajaran orang pantai logatnya terdengar keras, mungkin menyesuaikan geografis-katanya.

Maghrib lewat, Isya lewat, entah shalat apa tidak, tak perlu diduga-duga, tapi yang sudah merupakan kepastian bahwa duo AA masih mengakui sebagai hamba. Tiba-tiba, sekitar pukul 20.30 ada suara seperti bom terdengar dua kali.

Duarrr… Duarrr…

Satu sama lain saling bertatapan…

“Denger gak ?” Aples bertanya ke Hendri. Sebagai anak Pantai, Aples menganggap Hendri akan jauh lebih tahu apa yang sedang terjadi.

Akhirnya mereka berdiskusi tentang apakah itu merupakan bom ikan yang  diledakan nelayan ditengah laut atau bukan.

“Bukan, aku dari sejak kecil sampai sekarang belum pernah mendengar bom ikan sekeras itu” Jelas Hendri.

Tiba-tiba air laut dipinggir pantai seperti mendidih, mungkin tidak panas, tetapi gerakan si air menunjukan kejanggalan.

Dari tengah laut terlihat keputih-putihan sesuatu yang semakin lama semakin membesar dan mendekat.

“Itu apa ?” Tanya Aples masih dengan kekhawatirannya.

“Wah ada yang janggal, yuk kita sudahi mancing-mancing ini” Jawab Hendri bergegas khawatir.

Asep masih merokok dengan santai menimpali.

“Nggak, inimah air rob, sekadar air pasang, santai” Meneruskan rokokannya Asep melemparkan lagi benang pancingannya ke laut setelah melepas ikan yang terakhir ke ember.

PANIK. Asep masih santai.

Hendri sudah lari tunggang langgang duluan menuju pemukiman, sedang Aples sudah berada diatas motor menginjak-injak pedal motor berharap segera hidup.

“Woii gw bilang… ini cuman air pasang !!” Asep meyakinkan.

“Jangan sotoy, si Hendri aja yang anak pantai udahan” Aples sedikit kesal.

Ternyata pantai yang tidak terlalu jauh jaraknya sekitar 100 m dengan jalan raya sudah ramai orang berhambur keluar berlarian, rumah-rumah padam gelap, listrik mati, dan jaringan bersamaan menghilang. Malam minggu, keramaian yang sedari awal doa AA dan kawan-kawan pikir wajar, memang biasa ramai orang yang bermalam mingguan, apalagi wilayah itu merupakan tempat yang sering dijadikan pariwisata, karena memiliki garis pantai yang panjang dan indah.

“Jangan tinggalin gw sendiri woy…” Asep berlari menuju motor yang sudah hidup oleh Aples.

Seketika mereka sudah dijalan raya, ternyata warga sudah berhamburan keluar rumah, mengetuk setiap pintu rumah, mengingatkan bahwa laut sedang tidak bersahabat. Sementara itu, gemuruh laut semakin terdengar jelas, warga berlarian menuju daerah yang pegunungan.

“Ples.. gaspoll ples, ayok kita balapan sama ombak” Asep berceloteh diboncengan motor Aples.

Dalam hati, Aples sedikit kesal, karena disaat begini kawannya itu masih saja bernada seolah bercanda atau sedang tidak terjadi apa-apa.

Banyak warga yang berlarian ke gunung dengan menggunakan motor, ada yang tumpuk tiga, ada yang hanya berlari saja, anak-anak banyak yang terpisah dengan orang tuanya, ada yang membawa mobil, bahkan ada yang sampai lupa memakai busana; dari yang mulai setengah sampai polos apa adanya. Ya TUHAN…

Pekik shalawat, takbir, istighfar, dan kalimat-kalimat baik (Thoyyibah) lainnya terucap dari masing-masing manusia saat itu.

Allahuakbar…

Aples yang dalam keadaan emosional, tetapi masih punya nurani sebagai manusia, coba menolong beberapa anak kecil yang menangis tak karuan. Dia lempar anak kecil ke bak-bak mobil warga yang menuju pegunungan, anak kecil itu semakin nyaring menangis, karena masih terpisah dengan keluarganya, tapi Aples dan Asep coba tidak memperdulikan hal itu, saat ini yang penting apa dan siapa yang bisa diselamatkan harus diusahakan.

Ombak sudah mencapai bibir pantai… Aples dan Asep sudah sedikit berada diarea yang aman, meski tetap manusia terus berdesak-desakan, berlomba lebih dahulu menuju puncak tertinggi daratan yang ada.

Ditengah kepanikan Aples sedikit emosional kepada bapak-bapak yang membawa turut serta keluarganya di motor bertumpuk-tumpuk.

“PAK… Jangan terlalu PANIK!!” Melihat bapak-bapak yang jatuh bangun dari motor dengan keluarganya karena medan yang tanah dan licin. Dan, karena kepanikannya itu, sedikit menganggu warga yang lain yang sedang dalam keadaan panik juga, beresiko untuk terjadi kecelakaan.

“Bapak gak MATI karena Tsunami, bapak dan keluarga justru mati konyoll karena ulah bapak sendiri” Aples memaki dalam keadaan panik juga sebenarnya, warga semua sudah sadar dengan yang terjadi, ya ‘Tsunami’.

Asep dibonceng dengan terus bertindak bak orang yang tidak terjadi apa-apa; slengean, cengengesan, dan berbicara hal-hal yang mungkin menghibur-tapi dalam keadaan sekarang tidak tepat untuk dilakukan.

Kekesalan Aples memuncak.

Motor yang dikendarainya dia rem mendadak… sehingga membuat penumpang dibelakangnya, Asep, seloyongan gak karu-karuan bahkan setengah terjatuh mereka berdua.

Aples langsung berdiri tegak dibarengi Asep pula.

“Hayulah, mening lu berantem sampai mati sama gw disini” Aples menantang Asep.

Asep masih melohok dengan mata sayunya itu.

“Lu manusia laknat yang tak punya rasa iba, lu gak ada panik-paniknya!” Aples melanjutkan.

Di tengah orang-orang yang sedang kepanikan mereka memanas tak ada yang memedulikan.

Aples menarik kerah baju Asep mengangkatnya tinggi-tinggi, padahal ukuran tubuh Asep lebih tinggi daripada Aples, tapi kala itu pikir Aples, hidup atau mati sama saja, toh bakal tersapu ombak sekalian. Putus asa.

Sebagai seorang mantan narapidana Aples cukup kenyang asam manisnya lapangan kehidupan yang keras, jadi apa lagi yang ingin dicarikan manisnya ? Sekadar berkelahi dengan teman sudah bukan persoalan yang aneh baginya.

Lirih dan masih tak begitu berekspresi wajah dari Asep menerima tantangan Aples yang sudah berkawan lama tersebut, Asep coba sedikit menjawab atas pertanyaan-pertanyaan emosional dari kawannya itu.

“Ples ? Sudah berama lama lu berkawan sama gw hah ?”

“Gw bukannya gak panik, hanya saja coba untuk tetap tegar dan tenang, syukur-syukur lu terhibur. Dan inilah cara gw mendapatkan kekuatan dari Tuhan, dengan tetap merasa Tuhanlah pemilik segalanya, termasuk nyawa kita, begitu mudahnya Tuhan jikalau ingin melenyapkan kita, dan bagi gw itu seperti bercanda, dan dunia memang sandiwara pada akhirnya, karena dunia tidak abadi, termasuk kita.” Lanjutnya.

Mendengar hal itu, dalam keadaan yang bimbang, suara jerit tangis dimana-mana, mantan narapidana itupun berkaca-kaca penuh penyesalan. Dengan harapan yang sudah mulai lumpuh, karena mau bagaimanapun ombak yang menerjang sudah terdengar bergemuruh menghantam pantai, dan tidak bisa diprediksi apakah tempat yang sekarang mereka tempati aman atau tidak, merekapun melanjutkan perjalanan, sisa-sisa harapan yang berasal dari percakapan sederhana yang padahal disebabkan oleh  konflik singkat mereka berdua. Tapi hal itu cukup membuat, sekurang-kurangnya kalaupun harus mati, mereka pernah bercakap tentang sang maha kuasa, dan penuh pengakuan atas keperkasaan terhadap hamba-hamba-Nya.

Setibanya dipuncak pegunungan yang gelap, hanya disinari lemburan serta senter-senter warga dan beberapa lampu motor & mobil yang datang belakangan. Hendri sudah tidak tahu kemana entah jejaknya, tapi yang pasti duo AA berhasil berada dipuncak. Salah satu tokoh masyarakat setempat yang menyambut saudara-saudaranya warga pantai tersebut meyakinkan kalau ombak tidak akan sampai kesini, karena kalau saja sampai, berarti radius beratus-ratus kilometer dari garis pantai bakal terhantam pula.

“InsyaAllah tak akan sampai kesini, jadi saudara-saudara semua cukup beristirahat dan berdo’a untuk kesalamatan, ketawakalan, bagi yang lainnya” Tegas si Tokoh.

Mengampar daun pisang, warga yang kebanyakan tidak sempat membawa perlengkapan tidur dari masing-masing rumahnya. Ada beberapa terpal dari warga yang seolah sedang bernostalgia dan melakukan preseden dari sejarah kaum anshor menyambut kaum muhajirin kala dulu, atau seperti penyambutan Kristen Koptik kepada Sayyidina Nabiullah Muhammad dan sahabat-sahabatnya.

Kenapa daun pisang ? itulah sang inspirator bagi warga, ya… sebenarnya tanpa kata, entah diniati atau tidak, Aseplah orang tersebut. Seketika tiba ditempat puncak tersebut, Asep langsung mengampar daun dan tidur awal bahkan paling awal dari yang lainnya, lelap… seolah peristiwa itu tak lebih dari kejadian musang yang mencuri ayam-ayam warga, memang panik, tapi sesudahnya langsung bisa tertidur lelap, ya begitulah. Sedangkan Aples, masih sibuk menenangkan gadis yang terus meronta-ronta yang ingin pulang ke rumah, seolah adiknya, gadis tersebut dipeluk penuh haru tanpa ada rasa lain-lain selain itu.

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Gagasan