0

Ini adalah tentang cerita, bisa jadi tokohnya adalah saya-yang didalam narasi akan banyak terpapar subjektifitas historis pengalaman realita-atau, bisa pula sekadar narasi fiktif yang pada interpretasi yang lebih radikal, sekadar mengulang seperti apa yang disampaikan Abah Rocky Gerung-tanpa memandang tendensi keberpihakan politik-bahwa beliau yang diakui adalah ahli Filsafat pernah menafsirkan fiksi (kata dasar dari fiktif yang tentu ada perbedaan sifat pemaknaan) dengan deskripsi yang tidak populer dikhalayak umum disebuah acara stasiun TV Swasta Nasional. Dan sepertinya penulis rasa saudara-saudara sekalian yang banyak mengikuti acara TV tersebut, terkhusus kalangan masyarakat yang sangat concern mengikuti perkembangan politik nasional pasti sudah mengetahui, tentu dengan pandangan serta prokontranya masing-masing.

Hari ini, tanggal 23 Mei 2019, bertepatan dengan masih terjadi ketegangan-ketegangan kestabilan nasional, katanya (media). Dan kembali, tentu juga dengan keyakinan bahwa saudara-saudara sekalian sudah dan pasti atau akan tahu pada akhirnya tentang apa yang barusan saya tulis.

Datang entah darimana, tiba-tiba dimalam ini, teringat dengan dawuh guru saya, Abah Sulaeman (Khalifah Thariqat Qodiriyah wa Naqsabandiyah) dan Abah Aspuri (Wakil Talqin Thariqat Qodiriyah wa Naqsabandiyah) yang sanadnya tersambung dengan Mursyid Abah Sukanta Caringin, semoga Allah merahmati mereka semua, amin. Dilatarbelakangi kisah Ajengan Pangestu Abah Anom (Suryalaya) yang merupakan seorang yang tawadhu dan kami yakini waliyullah, saat Abah didatangi oleh serombongan ulama dan jajarannya (sebagai pembantu pengganti istilah), ulama fiqih yang ingin menjajal keilmuwan fiqih Abah Anom, justru malah berpulang dengan air mata terharu, rindu dan bahagia, bahagia karena justru dibaiat dan diijazahi zikir dari Abah Anom. Sekadar gara-gara kalimat sederhana Abah.

“Saya masih belajar, sekadar mengikuti apa yang diajarkan ayahanda” Kurang lebih begitu kalimat merendah Abah menanggapi retorika intelektual serombongan ulama yang ingin (seolah) menjajal ilmu Abah.

Mungkin suasana psikologisnya akan terasa sulit tersampaikan jikalau hanya sekadar membaca secara teks, dan tidak merasakan langsung pengalaman (cenderung spiritual) tersebut. Oleh karena, selalu ada pancaran yang berbeda dari orang-orang bijaksana seperti para beliau, tidak hanya tokoh Islam, juga; Biksu, Pendeta, Paus, Biarawati, Rabi, dan tokoh-tokoh lainnya. Bagaimana daya magis para beliau berhasil menjadi magnet bagi orang-orang awam semacam penulis, dan menjadi air segar yang berhasil meredakan dahaga yang selama dirindukan nurani umat manusia. Apa itu ? Dan mungkin bila dibahasakan universal atau seperti khas gaya milenial alay adalah ‘Cinta’. Tidak ada yang berhak dicinta selain cinta itu sendiri.

Suatu hari, seperti biasa dirumah. Tiba-tiba guru saya, Abah Sulaeman datang dan mengucap salam didepan pintu rumah, menjelang sore hari lebih dekat dengan waktu maghrib.

“Walaikumsalam” Jawab saya (sebagai yang katanya penghuni rumah).

Dengan perasaan aneh, kaget, bahagia, rindu, nano-nano untuk digambarkan saya langsung mengecup tangan beliau-entah tulus atau tidak-tapi seperti itulah kebiasaannya. Beliau tidak berkata-kata terlalu banyak, langsung menuju mushola dirumah saya, dan beberapa waktu kemudian, hening dan lirih suara tasbih. Lezat sepertinya. Beda dengan diri saya yang belum istiqamah, tetapi sekadar sudah dipertemukan oleh takdir saja untuk bertemu para beliau sudah teramat bersyukur sekali rasanya. Ah, Tuhan memang suka meromantiskan adegan-adegan takdir untuk makhluk-Nya.

Karena tahu beliau selalu berpuasa, jadi saya dan keluarga sudah mengerti dan paham sebelumnya tentang apa yang harus dilakukan untuk memulyakan tamu siapapun itu, apalagi ini tamu istimewa, kata “tamu” saja sudah amat istimewa dan harus diistimewakan semampunya-meski dengan bibir tersungging dan gigi yang mungkin sedikit kuning-kuning. Tapi untungnya malaikat pencatat tidak (sepertinya) mencatat amal dari penampilan, gesture, dan kondisi fisik, melainkan lebih kepada ketulusan. Dan piciknya, kita (sebagai objek eksploitasi untuk memproduksi amal) tidak diberi kemampuan dan legalitas untuk mencheck sendiri produk (amal) yang dihasilkannya, apakah sudah standar (tulus/ikhlas) atau masih bad quality. Hanya mereka (malaikat pencatat; tolong bantu ingatkan namanya) yang tahu mana yang standar produksi (tulus/ikhlas) mana yang tidak, atau jangan-jangan mereka-pun sama tidak mengetahui juga, dan hanya sutradara sejati dan satu-satunya saja yang punya pengetahuan itu. Karena apa ? Karena toh pas awal penciptaan nenek kakek moyang kita Nabi Adam AS mereka (para malaikat) sempat menyangka yang aneh-aneh ke kita (manusia), dan akhirnya dibantah juga oleh yang punya maksud mencipta dan yang menciptakan mereka, meski dibeberapa peristiwa bila dianalisis sangkaan-sangkaan tersebut (sangkaan para malaikat) sedikit ada benarnya dan tidak salah-salah amat juga. Meski juga akhirnya, yang punya skenaro bukanlah kita-para makhluk; manusia ataupun malaikat tadi-kita cuman dipinjami prasangka (dzon), itupun oleh sutradara yang maha, jadi kudu pinter-pinter buat menyangka diri tidak pintar, dan sutradaralah yang pemilik hak-tidak hanya-kepintaran, melainkan keseluruhan.

Kembali ke scenes tadi. Ketika Abah selesai dengan apa yang beliau anggap mesti diselesaikan, langsung bersantap secukupnya, sajian berbuka yang bahkan terkesan apa adanya dan tidak sama sekali cukup. Saat itu tidak enak hati. Akhirnya, ada semacam sesi berbincang-bincang, sesi yang penuh harap-harap cemas, dan abah dengan gestur tubuhnya yang kharismatik tapi merakyat pada kesemptan waktu itu justru terkesan tawadhu-dan bagi saya-sedikit seperti kekanak-kanakan.

“Abahmah ya gini saja … (manggil nama), tiap hari kerjaannya begini, gak kerja kaya orang-orang, tapi alhamdulillah anak istri tetap ada, kesinipun cuman siir saja.”

Melanjutkan, “Dari mana abah bisa ngasih makan orang-orang tiap diadaknnya majlis zikir tiap minggu-ya khataman tadi, kalau kata ahli syariat mungkin istighosahan-kalau bukan dari Allah”.

“Kamu pikir Abah melakukan ini (puasa, zikir, dll) itu buat kaya ? buat diri abah ? sekali-kali tidak ! Justru kalau berbicara secara manusiawi ya capek, masih harus bertahun-tahun lagi abah berpuasa, untuk siapa ? untuk ummat sekitar! Bukan siapa-siapa”.

Sampai disitu, sesambil merenung, saya terbesit dan terpikirkan sesuatu. Tentang wajar Abah sebagai manusia kadang ada rasa cape, karena mungkin bagaimana beliau sangat ingin mengajak masyarakat atau ummat untu bersama-sama meramaikan berzikir, terus mengingat kesejatian, Allah SWT akan tetapi banyak halangan. Salah satu contoh kasusnya, adalah beberapa dari kita/masyarakat yang mungkinsaya juga, yang justru datang ke abah minta yang aneh-aneh-katakan-lebih duniawi urusannya, tapi syukurnya Abah menanggapi hal itu dengan sabar, pelan-pelan, kadang sekadar bertutur “Iya selalu dido’akan semuanya..”. Apalagi calon-calon legislatif itu, hmm… tapi yang Abah tampilkan selalu laku rahmah, tidak marah. Meski kisah beliau dulunya adalah Panglima Hizbullah, sebuah kelompok didaerah yang melakukan dakwah dengan nahi munkar, seperti akan jauh bila dibandingkan sosok Abah sekarang.

“Ya, dulu susah nahan tangan buat gak nampar orang yang gak shalat”. Cerita Abah disuatu ketika.

“Semuanya Abah coba; ngaji alat, hikmah, bela diri (hizb), tapi yang kerasa kena sekarang cuman ilmu dzikr”. Lanjutnya disuatu ketika.

Kisah yang lain adalah Abah Aspuri, gurunya Abah Sulaeman, yang menceritakan juga kisah sewaktu beliau (Abah Aspuri) berguru dengan Abah Jufri. Bahwa Abah Jufri pernah ngurus murid yang itu seorang tokoh politik, yang bagi Abah Aspuri justru hanya membuat jelek nama Abah Jufri (Gurunya) dengan tingkah laku dan track record sitokoh dikancah perpolitikannya yang kurang baik.

“Saya berdemo ke guru saya sendiri, menentang keras guru saya untuk meninggalkan sesuatu yang justru lebih banyak meninggalkan noda hitam.. ” Abah Aspuri mengingat masa-masa itu, dengan tetap senyum dan tawa khasnya saat bercerita.

“Tapi apa jawaban yang saya terima dari guru saya ?” Lanjut Abah.

“Kieu…kuaing diurus bae geh model kitu, komo teuing kuaing henteu diurus”

“Gini…saya urus saja tingkahnya sudah seperti itu, apalagi kalau saya tidak urus” Abah Aspuri memaparkan jawaban dari cerita beliau dengan gurunya yang menggunakan logat dan bahasa khas Sunda Kulon.

Tertawa-tawa dan penuh suka, “Atuh kula keur ngora bisa naon ? Ja bener oge”. Abah mengisahkan kebenaran dan mengakui kalimat yang disampaikan gurunya kala itu, dan tidak bisa menjawab lagi, apalagi demo tak henti-henti, hilang sudah ketakdziman sama dengan hilangnya kebarokahan.

Betapa dimomentum seperti itu, terdapat suatu hikmah yang amat dalam. Dimana, para beliau sudah tidak lagi mengabdi dan menjalani laku hidup yang penuh dengan perhitungan atau bahkan kalkulasi penilaian orang diluar diri, berani bertindak ksatria dan tidak mempedulikan apa yang beliau jalankan tidak populer (berpotensi menurunkan drajat beliau diposisi kemasyarakatan), karena para beliau sudah tidak lagi mementingkan dirinya, fokusnya sudah lebih kepada apa yang diluar dirinya, apalagi kepentingan ummat, apalagi ummat yang sedang tidak baik jalan hidupnya, kasian, seperti saya.

Itulah sepenggal kisah yang bagi saya penuh kasih. Lebih romantis dibanding coklat yang diberi pada kekasih pada saat milad, tanpa merendahkan peristiwa romantis tersebut yang banyak memikat, tetapi mari kita bersama-sama-apalagi bulan Ramadhan dan didalamnya ada puasa (bagi yang merasa muslim)-untuk melanjutkan kuliah kultural kita didalam jurusan ‘studi pembangunan’, melatih teknis dan kedewasaan membangun benih-benih, yang nanti tabungannya ternyata lebih indah bila dipakai tidak hanya untuk kepentingan kita belaka, akan tetapi ada hak-hak yang diluar diri kita, termasuk orang-orang disekitaran kita. Mencontoh akhlak-akhlak beliau yang ilmunya sudah diakui, dan sanadnya tersambung sampai Rasulullah SAW, dengan kata lain kita mencontoh akhlak Rasulullah SAW dari signal-signal para beliau yang meski signalnya sedikit redup-redup, karena mulai sangat sulit menemukan suri tauladan seperti para beliau. Sama dengan Isa Al-Masih, penuh cinta, sama dengan Nabi Musa, amat tegas demi kebahagiaan kaumnya, begitupun Buddha, Tionghoa yang penuh Filosofi hidup bahagia, Hindu dengan ajaran yang membuat rindu dalam sendu terhadap sesama.

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *