0

Seperti yang kita ketahui bahwa manusia yang hidup di dunia ini tidak lah sama semuanya.Setiap orang memiliki keyakinan dan kepercayaan yang berbeda,baik dalam pandangan sosial,politik maupun agama.

Tetapi apakah perbedaan itu pantas manusia suarakan tentang kebencian.teror maupun pembunuhan? manusia adalah mahkluk yang berbeda dengan yang lainnya, manusia memiliki akal dan juga hati.

Menurut al-Farabi manusia adalah makhluk sosial yang mempunyai kecenderungan alami untuk bermasyarakat,karena ia tidak mampu memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa bantuan pihak lain[1].
Kemudian al-Farabi juga menyatakan perbedaan soal pemikiran,filsafat dan agama tidak mesti ada,karena semuanya mengacu pada kebenaran.Kebenaran hanya satu,kendati posisi dan cara memproleh kebenarannya yang berbeda,yang satu menawarkan kebenaran dan yang lainya mencari kebenaran.

Kita bisa lihat dengan seksama, di muka bumi ini manusia tidak sama baik itu warna kulit,bahasa dan juga negara. Tetapi penulis yakini setiap agama mengajarkan kasih sayang dan toleransi dalam keberagaman.

Dalam agama islam misalnya,di dalam Q.s al-hujurat:13 Allah menciptakan menusia dengan beragam, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar manusia saling kenal mengenal(Lita’arafuu).

Banyak ayat al-Qur’an yang menyatakan untuk bersama-sama adil dan damai untuk sesama umat muslim dan juga manusia yang lain.Dan juga ketika membaca al-Qur’an kita di perlihatkan untuk halaman pertama dengan kalimat Bismillahirrahmanirrahim .Kalimat tersebut secara eksplisit menyatakan, bahwa Tuhan adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Setiap muslim di tuntut untuk toleran,

Tuhan menciptakan manusia dalam rangka membagi kasih sayang-Nya.tidak bisa dielakkan,toleransi merupakan fundamen dalam keberagaman.Nabi Muhammad saw juga bersabda Bismillahirrahmanirrahim dibaca sebelum memulai pekerjaan apapun.Bila dikaitkan dengan kandungan yang mulia tersebut, maka Nabi mempunyai maksud khusus dibalik sabdanya,yaitu agar kasih sayang menjadi spirit dalam pikiran maupun tindakan manusia sehari-hari.

Kemudian apakah menusia pantas bertikai akibat berbeda madzhab dan juga agama? bagi penulis menemukan kesamaan dari sebuah perbedaan adalah keniscayaan. Kita harus membangun komunikasi dan dialog dari tuduhan teologi yang berbeda.
Apakah tuduhan itu benar adanya,karena sering terjadi tuduhan itu hanya sebuah asumsi buta yang mengantarkan orang lain menuju pada kebencian,teror dan juga pembunuhan.

Maka dari itu toleransi harus ada di jiwa setiap orang, karena sesungguhnya Tuhan lah yang ingin kita berbeda. Tumbuhan berbeda-beda,Planet berbeda-beda bahkan cara pandang dan juga pemikiran orang memahami kitab sucinya pun berbeda-beda.

Kita bisa saksikan banyak manusia yang melukai bahkan membunuh manusia yang lainnya karena perbedaan pemahaman, berbeda pilihan politik dan lainnya.

Apakah melukai bahkan membunuh seseorang di benarkan? apalagi karena hanya perbedaan pandangan soal pilihan politik dan juga pandangannya memahami kitab suci.
sudah bosan rasanya mendengar dan di pertontonkan nya sebuah kejadian yang tidak seharusnya terjadi, misal pembunuhan massal manusia karena menganggap manusia yang berbeda pandang dengannya wajib di bunuh dan juga halal darahnya.

Apakah tidak konyol kejadian seperti itu? membunuh orang karena memaksakan kehendak orang untuk sama adalah sebuah kebodohan dan juga bisa disebut ini sebuah nafsu yang tidak benar.

Kebencian adalah sumber dari semuanya, kebencian itu biasanya terbangun atas dasar kesalahpahaman seseorang dalam berhubungan sosial bisa jadi juga soal agama.

Agama adalah persoalan yang sensitif dan juga sangat rumit jika seseorang itu memahami agama dengan kepercayaan yang memonopoli kebenaran itu sendiri,sangat sulit diajak untuk diskusi bahkan mereka menghindari hal itu.

Maka dari itu menerima perbedaan adalah keniscayaan untuk membangun sebuah peradaban yang besar,dengan jiwa saling menyayangi dan mengasihi di setiap manusia maka keberlangsungan dan keharmonisan bersosial dan bermasyarakat tetap berlangsung dengan sangat baik.

Catatan kaki:

[1]Lihat al-Farabi,Ara Ahl al-madinah al-Fadhilah,(Mesir:Maktabah Matba’ah Muhammad Ali,t.th.),h.96.

Mochammad Wahyu Syamsuddin
Mahasiswa Institut Agama Islam Banten , Tim Penggerak dan Admin Media Sosial Facebook/Instagram/Twitter : @Gusdurianbanten Penyuka Fiksi dan Puisi

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Gagasan