0

Oleh : Bayu Maldini

Akhir- akhir ini isu kebangsaan semakin ramai di perbincangkan kembali, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika kembali di uji , persatuan dan rasa nasionalisme pun ikut terkoyak-koyak, indonesia yang aman tenteram kembali diterpa gelombang perpecahan, masyarakat Indonesia  yang multi kultural dan terkenal ramah semakin di uji kedewasaannya, setelah 74 tahun merdeka ,berjuang melawan penjajahan, berjuang demi bangsa dan negara,  seharusnya persatuan dan rasa toleransi  semakin menjadi modal utama dalam berkehidupan sosial . Memang tidak bisa dipungkiri, di era modern saat ini arus komunikasi yang sangat cepat  bisa menjadi faktor yang sangat berpengaruh , terhadap timbulnya konflik dan dis-integrasi bangsa. Paradigma yang lahir dari realitas sosial yang terjadi ,Semakin menemukan kebuntuan. Dekadensi moral, dekadensi kultural, dan dekadensi toleransi , kembali menjadi pr  kita bersama. Sebagai anak bangsa yang hidup dan lahir di tanah ibu pertiwi ,tentunya sangat menyayangkan terhadap issue-issue sosial yang mengguncang keutuhan bangsa dan negara. Menjadi anak bangsa yang hidup di tengah perbedaan dan budaya yang majemuk tentu tidak mudah dalam berproses menerima kenyataan tersebut, serta tidak sulit untuk semakin mendewasakan diri pada ruang-ruang toleransi. Ketika mengingat pelajaran sejarah sewaktu saya belajar dulu dibangku sekolah (SMP/ SMA), saya sangat kagum kepada para founding father bangsa ini yang totalitas dan semangat ber-api api dalam mewujudkan cita cita kemerdekaan indonesia. Saya masih meyakini bahwa indonesia merdeka bukan hanya buah dari perjuangan satu elemen masyarakat atau golongan saja , saya percaya bahwa  indonesia merdeka banyak melibatkan rakyat yang dalam hal ini bukan hanya agama mayoritas, bukan hanya satu Ras atau suku bangsa saja, akan tetapi Dalam konteks perjuangan kemerdekaan, semua anak bangsa ikut terlibat, dari sabang sampai merauke, dari aceh sampai papua. Kesenjangan sosial memang tidak ter-elakan lagi , stratifikasi sosial yang semakin terasa di era modern ini  otomatis akan bergesekan langsung dengan kehidupan masyarakat. 

Sementara itu menurut Alex inkles,dalam karyanya : “ The modernisation of Man” mengatakan, bahwa diri manusia modern terdiri dari dua hal, yaitu internal dan eksternal.Yang pertama meliputi sikap, nilai, dan perasaan. Yang kedua menyangkut lingkungan. Dalam hubungan ini, ia menyatakan bahwa komunikassi massa  merupakan faktor yang sangat berpengaruh. Teknologi informasi dan elektronik yang semakin maju telah menyebabkan dunia semakin kecil ,pesan komunikasi  (Communication Message) yang dahulu tidak mungkin disampaikan pada suatu tempat,dengan radio atau televisi melalui satelit palapa, sekarang dapat sampai bukan dalam ukuran hari, jam atau menit, melainkan detik.

Persoalan modernisasi ini adalah masalah kebahagiaan. Kenyataan ini sangat menunjukan bahwa, dalam upaya mencapai  kebahagiaan masyarakat, terjadi pertarungan antara kelompok tertentu  dengan selera tertentu .Untuk kebahagiaan kelompok lain yang mempunyai selera lain, masing-masing berusaha  menciptakan tatanan masyarakat yang sesuai dengan seleranya sendiri.

Prof. DRS Onong uchjana effendy,M.A  mengatakan ; Ahli-ahli ekonomi beranggapan, bahwa ekonomi adalah yang lebih penting dari segalanya , modernisasi bagi kelompok ini adalah modernisasi ekonomi.  Sementara itu Para agamawan menganggap agama lebih penting daripada yang lain, kelompok ini bersedia berkelahi ,bahkan kalau perlu berperang jika agama mereka ditindas. Selain itu juga Orang-orang politik mengklaim:politik sebagai panglima, kelompok ini menganggap  politik maha penting karena segalanya ditentukan oleh politik. Pentingnya konsep modernisasi  ialah untuk mencegah terjadinya pertarungan antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya. Dari hal tersebut sudah jelas bahwa kepentingan golongan akan mejadi sangat kontras dan mengkhawatirkan. Yang sewaktu-waktu bisa menjadi bom waktu, kedewasaan dalam menerima perbedaan dan kedewasaan dalam bersosial adalah kunci utama untuk hidup rukun dan damai.  Seperti yang telah di contohkan oleh bapak toleransi sekaligus guru bangsa kita Alm. KH. Abdurrahman Wahid. Salah satu hal yang selalu saya ingat dari beliau adalah kata-kata “gitu aja kok repot” se akan- hal ini merepresentasikan fenomena yang terjadi saat itu dan saat ini. Kata-kata ini se akan menjadi penenang ketika urat syaraf mulai tegang.

 Sementara itu masyarakat indonesia saat ini tergolong menjadi salah satu penikmat karya agung teknologi. Berbicara masyarakat indonesia tentunya akan selalu hadir istilah kebudayaan dan suku bangsa, bukan tanpa sebab , sebagai masyarakat yang mayoritas muslim yang memilki kekuatan besar Hegemoni budaya. tentu akan semakin tinggi tingkat prestise yang di emban, Setiap kebudayaan yang hidup dalam suatu masyarakat baik berwujud sebagai komunitas desa ,kota,,sebagai kelompok kekerabatan ,atau kelompok adat yang lain,bisa menampilkan suatu corak khas yang terutama terlihat oleh orang diluar masyarakat bersangkutan.

Terakhir dari penulis ( closing opinion)  masyarakat yang cerdas dan bijak adalah masyarakat yang mampu menerima perbedaan dan memiliki rasa toleransi yang tinggi.

Mochammad Wahyu Syamsuddin
Mahasiswa Institut Agama Islam Banten , Tim Penggerak dan Admin Media Sosial Facebook/Instagram/Twitter : @Gusdurianbanten Penyuka Fiksi dan Puisi

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Gagasan