0

Oleh : Bayu Maldini

Dalam sejarah perjuangan bangsa indonesia  pemuda selalu menjadi bahan yang menarik untuk diperbincangkan, selain dari peran sentral pemuda saat itu, pemuda juga menjadi ujung tombak perlawanan. Dalam rentang Tahun 1908,1928,1945,dan 1998 pemuda selalu menjadi pelopor perubahan,selalu menjadi grand desain gerakan, hadir sebagai solusi di tengah kebuntuan,menjadi damar di tengah kegelapan. Namun akhir-akhir ini timbul pertanyaan  apakah peran pemuda masih di butuhkan?, apakah pemuda masih menjadi solusi di tengah kebuntuan yang semakin mengikat?, kemudian apa yang bisa pemuda lakukan sekarang, sementara situasi sekarang pemuda sudah tidak perlu lagi berperang , tidak perlu mengangkat senjata, tidak perlu baku tembak. Dari pertanyaan tersebut timbulah jawaban bahwa dengan tegas saya menjawab pemuda masih di butuhkan, pemuda masih menjadi solusi , pemuda masih menjadi damar di tengah kegelapan . pemuda hari ini adalah pemuda yang akan meneruskan perjuangan cita-cita kemerdekaan indonesia, pemuda hari ini bukan hanya sebagai  agen of change saja tapi pemuda hari ini  adalah sebagai  iron stock (generasi penerus) bagi generasi sepuh yang rentan dan rapuh. Pemuda harus berperan dalam semua aspek ,gerakan pemuda saat ini tidak lagi bersifat konvensional (jadul) gerakan pemuda hari ini sudah beranjak pada perjuangan ideologi ,perjuangan paradigma,perjuangan ukhuwah dari ancaman kaum kaum trans-nasional. Dengan kata lain pemuda milenial harus berilmu,harus berbudi luhur dan cakap dalam mengamalkan ilmunya.sebagai  civil society hari ini tugas kita adalah sama-sama  sebagai penjaga tradisi ,sebagai pembela bangsa dan penegak agama,sehingga persatuan dan kesatuan akan selalu berdampingan dengan kehidupan sosial.

Sebagai negara yang memiliki banyak suku bangsa dan sebagai negara yang plural (memiliki banyak agama) ,tentulah tidak mudah merawat dan menghindari ancaman yang mengusik ketentraman dan persatuan bangsa, sehingga perlu energi lebih dan dorongan dari semua kalangan,Serta kematangan menjadi barometer dalam mengarungi arus jaman, sebab ketidakmatangan adalah ketidak mampuan untuk menggunakan pemahan dirinya tanpa petunjuk orang lain. Saat ini kita tidak lagi hidup di era orde lama, kita tidak lagi hidup di era orde baru ,akan tetapi kita hidup di era teknologi,di era revolusi 4.0,dimensi yang menguji kesiapan kita sebagai warga negara dan menguji kesiapan kita sebagai makhluk sosial.  Kemungkinan besar permasalahan yang terjadi dari pesatnya perkembangan teknologi dan informasi adalah terjadinya kesenjangan sosial dan mengikisnya rasa nasionalisme, hal ini merupakan ancaman nyata bagi pemuda yang dalam hal ini berperan sebagai pelaku soisal dan eksekutor. kita harus  selalu Insyaf dan sadar bahwa ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah  pedoman untuk  bermasyarakat,  berbangsa dan bernegara serta diterapkan dalam kehidupan masyarakat dunia dengan memegang teguh prinsip yang di ungkapkan oleh Soekarno Dan Undang-Undang No 5 Tahun 2017 berdikari secara ekonomi, berdaulat secara politik berkpribadian dan kebudayaan. Prinsip itulah yang harus kita pegang dan terapkan untuk menghadapi tantangan zaman dimasa yang akan datang.

Di era millenial saat ini teknologi menjadi hal penting dan siapa yang menguasai teknologi dialah pemeran utamanya,sementara menurut logika politik ekonomi , siapapun pemegang kebijakan dialah yang akan menguasai, sementara itu  pertumbuhan ilmu pengetahuan semakin pesat , akses informasi semakin mudah , dan persaingan semakin ketat, sehingga semakin kontras persaingan antara generasi jet dan generasi pentium. Dari kemudahan-kemudahan yang dihadirkan oleh efek globalisasi tersebut ,ancaman akan selalu hadir, diantaranya adalah dis–integrasi bangsa,kesenjangan sosial ,mengikisnya rasa nasionalisme, sehingga ideologi-ideologi dunia akan semakin mudah masuk (perubahan peradaban) ,paham paham radikalisme yang masuk melalui Literasi digital ,dakwah digital , yang kemudian semakin berkesan dan menarik, sehingga sangat rentan bagi remaja dan pemuda yang menjadi sasaran empuk paham-paham yang mengatasnamakan perjuangan umat ,mengatasnamakan kemanusiaan padahal hanya ilusi untuk memuluskan kepentingan golongannya saja.

Peran Pemuda hari ini dalam menjawab problem-problem dilematis diatas adalah pemuda harus mampu berdikari ,menjadi pelopor dalam mengembangkan ekonomi kreatif, menjauhkan rasa pesimisme , dan harus mampu menjadi lokomotif perubahan dan  menjadi kiblat Pemuda masa kini.

Mochammad Wahyu Syamsuddin
Mahasiswa Institut Agama Islam Banten , Tim Penggerak dan Admin Media Sosial Facebook/Instagram/Twitter : @Gusdurianbanten Penyuka Fiksi dan Puisi

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Gagasan